Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

12 July 2013

BATASKU
Oleh; Saifudin elf

“Ayo semangat dek, keterbatasanmu bukan menjadi alasan untukmu menjadi lemah ” kata yang terakhir kali aku dengar sebelum kematiannya. Rudi memang salah seorang seniorku yang pernah aku idolakan saat aku menjadi mahasiswa baru. Dengan perawakan yang tinggi tegap. Paras wajahnya pun juga sedikit bercahaya, ketimbang beberapa seniorku yang lainya.

Hingar-bingar kehidupan kampus sebuah perguruan tinggi nampak sekali mengerikan dalam fikiranku. Entah apa yang membuat seperti ini? Tapi itulah diriku yang selalu merasa asing dan takut saat memasuki dunia baru.

“Kamu masuk PTAI (perguruan tinggi agama Islam) yang ada di semarang saja ya nak”, Ucap ibuku kepada diriku di suatu sore.
“Tapi, aku tidak ada minat di PTAI. Apalagi di Semarang, aku ingin sekali kuliah di Surakarta buk”, jawabku dengan penuh pengharapan.
“Iya nak, ibu faham. Kamu memang boleh punya keinginan. Tapi kamu juga harus ingat, ibumu ini siapa nak? Pekerjaannya apa nak?”, sahut ibuku berikutnya.

Sejak perbincanganku dengan ibuku di sore itu. Kulalui hari-hariku dengan selalu merenung. Merenung untuk mencari sebuah jalan keluar. Hingga akhirnya aku pun bisa menerima keinginan ibuku. Walaupun itu berat, tapi itu sudah menjadi sebuah keputusan.

Suara bising kendaraan bermotor menyapaku di pagi itu. Pagi dimana aku akan memulai langkah yang menurutku besar. Yah, tentu saja karena hari itu, hari dimana diriku akan melakukan pendaftaran ke salah satu PTAI di Kota Semarang.

Udara pagi di kampung halamanku, di sudut Kota Kendal masih terasa sangat segar saat aku keluar dari rumah Ibuku. Setelah sebelumnya kusempatkan untuk menghubungi salah seorang kawanku yang juga sama-sama akan mendaftar di salah satu PTAIN di Kota Semarang.

“Ketemuan dimana bro?”, tulisku melalui pesan singkat SMS (Short Message System)
“Ketemu di Alun-alun kota saja”, balas Umar, temanku waktu di bangku SMA.

Kususuri jalanan yang cukup panjang, untukku bisa sampai di alun-alun kota. Benar saja, si Umar ternyata sudah stand by di alun-alun kota. Wajar saja, mengingat rumah Umar yang tidak jauh dari alun-alun kota. Kutemui Umar yang nampak sudah lama menunggu kehadianku.

“Gimana Mar, yakin daftar di PTAI Semarang”, tanyaku pada Umar.
“Iya Ud, aku sudah yakin. Mungkin ini sudah menjadi jalanku Ud”, jawabnya mantap.

Mendengar jawaban Umar, aku pun hanya bisa tertegun. Kenapa Umar bisa seyakin itu mendaftarkan diri di PTAI Semarang. Rasa iri pun menggeliat di dalam diriku. Aku yang belum bisa menerima keputusan ini, berbanding terbalik dengan Umar yang telah menyakini bahwa ini adalah jalannya.

Dalam perjalanan dari alun-alun kota menuju lokasi PTAI Semarang, hanya baying-bayang kata-kata Umar tadi yang selalu berputar-putar dalam fikiranku. Hingga tanpa sadar ternyata tubuhku sudah berada di depan gedung pendaftaran PTAIN Semarang.

“Selamat datang dek di kampus hijau”, ujar salah seorang mahasiswa senior yang nampak begitu ramah, menghampiri diriku yang terlihat kebingungan.
“Iya mbak terimakasih”, ujarku singkat.
“Namanya siapa dek ?”, tanyanya mencoba akrab.
“Namaku Mahmud mbak”, jawabku keheranan.
“Oh iya dek, kakak namanya Santi mahasiswa semester 3 Pendidikan Kimia”, ucapnya memperkenalkan diri.

Senyum manis, nampak dalam raut perempuan yang sudah berstatus mahasiswa di PTAI Semarang. Kesan pertama yang menurutku, kesan yang cukup menarik. Bayang-bayang akan kejamnya Perguruan Tinggi, sedikit terkikis dengan perjumpaanku pada perempuan itu.

Aku dan Umar setibanya di gedung pendaftaran, segera melakukan registrasi awal dengan menyerahkan beberapa uang rupiah pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu. Kudapatkanlah formulir pendaftaran begitu uang sudah diterima bagian registrasi. Kota-kotak serta kolom-kolom yang tertera di formulir pendaftaran tersebut sedikit meembingunkan diriku. Sontak perempuan yang mengaku bernama Santi yang sempat menyapaku di awal kedatanganku, bersedia untuk menuntunku diriku mengisi setiap isian yang ada dalam formulir tersebut.

“Sudah selesaikah formulir itu kamu isi mar?”, tanyaku kepada Umar.
“Sebentar lagi selesai Ud. Kamu memilih program studi apa saja Ud”, lanjut Umar
“Aku mengambil prodi Ilmu Komunikasi Islam dan Pendidikan Biologi”, jawabku singkat.
“Kalau aku ngambil Ekonomi Islam dan Pendidikan Bahasa Arab”, sahut Umar sambil menunjukkan formulir pendaftarannya.
Aisshh, mau jadi Pak Yai ya mar”, ledekku pada Umar disertai dengan tawa menggelegar.

Bayang-bayang prosesi awal pendaftaran kuliah masih saja teringat dalam benakku hingga tiba akhirnya pengumuman kelulusan seleksi penerimaan mahasiswa baru. Ku lihat secara seksama setiap nomor pendaftaran yang terpampang di papan pengumuman kampus PTAI Semarang. Kulihat di semua fakultas dan semua program studi, hingga kutemukan nomor pendaftaranku tertera di barisan calon mahasiswa baru pada program studi Ilmu Komunikasi Islam.

Melihat papan pengumuman tersebut, aku hanya bisa tertegun. “What, it is my Way ?” serasa belum mampu untuk menerima kenyataan seperti ini. Kutinggalkan lokasi kampus dengan kepela tertunduk lesu. Mencoba meratapi apa yang baru saja aku terima. Yah, kenyataan diterima di PTAI Semarang.

Gerbang Baru,
“Ayo adek-adek baris yang rapi ya, sesuaikan barisan dengan kelompok masing-masing”. Instruksi salah seorang panitia Orientasi Mahasiswa Baru.
“Ya Tuhan, kutakan hamba memasuki dunia baru ini, memasuki gerbang baru ini dengan keterbatasanku, dengan kecacatan tubuhku ini Tuhan”. Gumamku meminta kepada Tuhan.
“Mas’ud, kamu masuk kelompok 12 Fatimah Mernissi yah”. Ucap salah seorang panitia yang belum ku kenal namanya.
Perlahan-lahan, semua mahasiswa baru memasuki Aula PTAI yang nampak begitu besar dan luas. Terlihat beberapa panitia di depan pintu masuk dengan wajah yang sedikit songkak. Aku bersama 1.200 mahasiswa baru yang lainnya kini telah berada di dalam aula. Suasana Ramadhan waktu itu tidak menyurutkan semangatku untuk memulai proses awal di kehidupan kampus.
Dengan seksama ku dengarkan semua materi serta penjelasan dalam rangka kegiatan Orientasi Mahasiswa baru. Mengenakan baju kemeja berwarna putih polos, celana panjang warna hitam, dasi hitam serta sepatu hitam. Itulah diriku bersama mahasiswa baru lainnya sebagai tanda peserta orientasi mahasiswa baru.
Di tengah keramaian serta hiruk pikuk kegiatan orientasi mahasiswa baru, aku hanya dapat tertegun emncoba untuk terus tegar. Apakah nantinya aku mampu mebaur dengan mereka, yang lebih sempurna daripada aku. Hingga tibalah saatnya diriku mengikuti prosesi orientasi di tingkatan Fakultas. Kali ini, hanya bersama 190 mahaiswa baru lainnya yang satu fakultas denganku. Maklum saja, Fakultas yang kuambil memang bukan Fakultas unggulan, yang sangat minim peminat.
“Ayo dek cepat, kamu masuk kelompok 8”. Ucap mbak Mega, seniorklu sekaligus penanggungjawab kelompokku.
“Iya mbak”. Jawabku singkat.
“Kamu tidak usah minder seperti itu dek, santai saja. Toh, kita semua juga pernah mengalami proses sepertimu”, kata mbak Mega kepadaku.
Di tengah-tengah perbincanganku dengan mbak Mega, ada instruksi dari panitia orientasi mahasiswa baru tingkat fakultas.
“Setiap kelompok silahkan membuat yel-yel masing-masing, jangan lupa lusa, teman-teman harus susah hafal dengan yel-yel kelompok masing-masing. Mengerti?” Ucap kak Rudi di depan podium.
“Mengerti kak”, jawab kami serentak.
Namun, keserentakan jawaban kami tidak berlaku dalam benakku. Bayang-bayang sakit hati yang pernah kualami waktu SMP dulu, masih menyisakan sakit yang mendalam. Tak pelak, aku pun hanya dapat terdiam dalam setiap kali ada perkumpulan kelompok, perkumpulan jurusan, yang jika aku lihat teman-temanku terlihat begitu berbeda dengan diriku.
“Dek, kamu kenapa?” Tanya kak Rudi pada diriku.
“Tidak apa-apa kak”, jawabku singkat.
“Kok, kamu diam saja. Terus kamu juga jarang terlihat kumpul dengan teman-teman satu kelompokmu terus juga jarang ngumpul dengan teman satu jurusanmu”, Tanya kak Rudi lagi kepadaku.
Belum sempat ku jawab pertanyaan kak Rudi. Kak Rudi sudah memberondong lagi beberapa pertanyaan kepadaku.
“Kalau ada apa-apa, ceritalah sama kakak. Kalau bisa bantu pasti kakak bantu”, lanjut kak Rudi.
Aku pun hanya terdiam.
“Dek, dek, kamu masih sadar kan”, kata kak Rudi.
“Iya kak, aku masih sadar”, aku terbangun dalam lamunaku.

Akhirnya aku pun menceritakan semuanya kepada kak Rudi. Dari awal sampai detik itu juga apa yang pernah kualami. Dengan wajah yang terlihat tegar kak Rudi hanya bisa tersenyum melihat diriku bercerita kepadanya.
“Ayo semangat dek, keterbatasanmu bukan menjadi alasan untukmu menjadi lemah ”, ucap kak Rudi setelah aku selesai bercerita kepadanya.
Kata-kata yang menjadi penyemangat dalam hidupku. Pertemuan serta percakapan itulah yang menjadi pertemuan dan percakapan terakhirku dengan kak Rudi. Karena 2 hari sejak moment itu kak Rudi terlibat dalam kecelakan maut di depan gerbang kampus, yang menyebabkan kak Rudi mengalami gegar otak dan akhirnya meninggal dunia.
Kabar kematian kak Rudi, sangat memilukan bagiku. Sosok yang sempat menjadi penerang jalanku, kini telah tiada. Sosok yang pernah memberikanku semangat untuk terus melangkah, kini hanya menyisakan kerinduanku kepadanya.
“Terima kasih kak Rudi, semoga Tuhan memberikan tempat yang mulia di sisi-Nya”, pintaku kepada Tuhan.
Sejak saat itu, perlahan-lahan aku mulai bangkit dari keterpurukanku. Ku coba untuk terus menjalani proses yang begitu keras. Ku coba untuk menjalin komunikasi dengan teman-temanku. Hingga akhirnya aku bisa menjadi seperti sekarang ini.
“Keterbatasan bukan menjadi penghalang diriku, buakn menjadi alas an untuk menjadi lema”, kata-kata yang selalu kujadikan pemacu dalam setiap langkahku.
Selamat jalan kak Rudi, jasamu kepadaku tak akan kulupakan.
Semarang, 2 – 6 Juli 2013

Di ruang kenangan


07 March 2013


Cukup Aku Saja
Oleh; Saifudin elf

Tia, tak kuasa menahan air matanya berlinang membasahi kedua pipinya yang masih memerah karena tamparan Nino, pacarnya. Setelah Nino mengetahui, pacarnya menjadi pesolek hanya gara-gara profesi pemandu karaoke yang ia geluti. Hidupnya berputar 180 derajat. Pukulan telak bagi Tia, di saat semua orang dekatnya satu persatu menjauhinya. Kini Nino, orang yang selama ini menjadi sandarannya melalui kehidupan ini tiba-tiba menampakkan kemarahan yang luar biasa kepadanya.
“Tuhan, aku tak kuasa menahan semua ini. Tak ada yang bisa mengerti diriku selain diriMu” pekiknya dalam hati.
Suara kendaraan bermotor masih saja menyembul mengeluarkan suara bisingnya di tengah malam. Malam dimana Tuhan menggariskan sebuah pertemuannya dengan lelaki bertubuh gempal itu. Dia masih saja sibuk dengan pekerjaannya, menemani para pengunjung di tempat ia setiap hari bekerja. Yah, tempat itu adalah “ESC” family karaoke. Tempat karaoke yang sudah terkenal di kota Semarang. Dengan lincah ia memerankan perannya sebagai pemandu karaoke.
“Mau mutar lagu yang mana mas? Pop, dangdung, atau mungkin bollywod?”
“Lagu yang dangdut saja mbak, kalao bisa yang sedikit koplo
Dibalik senyum manisnya, tersimpan berjuta derita yang tak semua orang bisa merasakannya. Di tengah perjalanan hidupnya, ia menjadi sosok yang tegar. Takdir telah membawanya menjadi pribadi pekerja keras. Apalagi sejak ia ditinggal oleh kedua orang tuanya karena sebuah perceraian yang tragis itu. Sejak saat itu kedua orangtuanya pergi entah kemana. Beruntung, Roni pamannya membawa Tia untuk ikut tinggal bersamanya. Lelaki paruh baya yang sehari-harinya bekerja sebagai supir angkot jurusan Mangkang-penggaron kini menjadi orang tuanya yang mengucurkan kasih saying kepadanya. Walaupun bukan kasih sayang sebagai orangtua kandung. Namun, setidaknya kasih saying yang begitu tulus.
Sejak awal, ketika Tia memutuskan untuk menjadi pemandu karaoke (PK). Sebenarnya Tia sudah mengerti akan stigma buruk yang kerap orang-orang lancarkan kepada setiap PK yang ia temui. Akan tetapi, nasib berkata lain. Nasib yang membawa Tia menggeluti profesi PK tersebut. Bukan tanpa maksud Tia memilih menjadi seorang PK. Tia ingin melihat pamannya Roni, bahagia melihat keponakannya bisa berkarya lagi, setelah sempat berhenti pasca ditinggal oleh kedua orangtuanya.
Bukan kesenangan semata yang ia cari dari sebuah pekerjaan PK. Ia pun tak ingin menjadi seorang PK kebanyakan. PK yang sering mencari pekerjaan sampingan. Melayani godaan para lelaki hidung belang. Bagi Tia, pekerjaan dia yang sekarang bukan pekerjaan yang murahan seperti itu. Sebenarnya bukan karena pekerjaan PK nya yang menjadi penyebab stigma buruk masyarakat tentang PK. Namun, tak lain adalah karena profesi sampingan dari para PK tersebut, yang sering melayani godaan para lelaki hidung belang. Tia, tahu fakta tersebut. Apa daya seorang Tia, yang hanya seorang PK pendatang baru. Lemah tak berdaya melihat kenyataan yang sedemikian rupa.
Sementara di luar sana, rintik-rintik gerimis masih terus saja turun. Membasahi jalan-jalan protokol kota Semarang. Tia hanya bisa melihat gerimis tersebut dari balik kaca pada sebuah ruangan di “ESC” family karaoke. Dalam lamunannya Tia merasakan ada yang aneh dengan perasaannya malam itu. Seperti ada sesuatu yang akan menimpanya. Tapi karena dasarannya Tia yang cuek, perasaan itu lenyap seketika, saat Tia beranjank dari tempatnya.
Tak berselang lama, suara motor yang terdengar sedikit nyaring masuk ke dalam area parkir. Lelaki berperawakan sedikit gemuk, dengan postur yang sedikit menjulang tinggi keluar dari area parkir. Jaket kulit yang masik sedikit basah, menandakan bahwak ia baru saja menerobos gerimis yang sejak sore belum juga reda. Setelah jaket yang ia kenakan dilepas, ia segera masuk ke dalam untuk memesan sebuah ruang karaoke.
Ruang karaoke bertipe small tepa berada disudut ruangan menjadi pilihannay malam itu. Tak lupa lelaki tersebut juga meminta manajemen untuk menyediakan seorang PK. Kebetulan saat itu Tia sedang kosong. Akhirnya Tia lah yang menjadi pemandu lelaki tersebut untuk berkaraoke.
“Sudah lama kerja di sini mbak?”
“Baru kok mas, paling baru 2 bulan”
“Oh, kirain udah lama mbak. Pantas saja saya baru melihat mbaknya. Seingatku udah hampir 2 bulan lebih saya tidak ke tempat ini”
“Iya mas, berarti dulu mas pelanggan di sini yah mas”
“Dulu, sih iya. Hampir tiap malam minggu saya pasti datang kesini. Namun, sejak kedua orangtua saya bercerai hari-hari saya jadi semakin murung. Seperti tak ada semangat lagi buat jalani hidup ini mbak”
“Maaf ya mas, jika pertanyaan saya justru akan membuat mas harus mengingat masa lalu mas. Maaf sekali lagi mas”
“Santai sajalah mbak, yang terjadi biarlah terjadi. Toh, nyatanya saya bisa bertahan sampai detik ini. Tak lain karena keyakinan saya, bahwa hidup harus terus berlanjut apapun yang terjadi”
Gelak tawa mewarnai pertemuan, sang PK dengan lelaki bertubuh gemuk tersebut. Bukan karena apa-apa, mungkin juga karena nasib yang hampir sama. Sama-sama menjadi anak korban perceraian kedua orangtuanya.
“Oh, ya mas. Mau mutar lagu yang seperti apa mas? Dangdut, pop, barat, atau bahkan bollywood?” Tanya Tia kepada lelaki tersebut yang masih terlihat dalam kondisi tertawa.
“Santai sajalah mbak, saya masih alam di sini kok mbak. Selain itu kan kita belum kenalan. Tak kenal maka tak sayang” ledeknya pada si Tia, yang kemudiang disambung dengan gelak tawa yang semakin heboh.
“Wah, masnya bisa saja. Oh iya mas, nama saya Cintya Rahayu. Tapi mas bisa panggil saya Tia saja” sahutnya.
“Nama yang bagus mbak, hehehe. Kalau saya Niko mbak. Lebih tepanya Niko Dwi Saputra”
“Ok, mas Niko saya akan menjadi pemandu yang baik buat mas”
“Tidak usah pakai mas, panggil Niko saja cukup”
“Iya mas Niko, oh, oh, Niko”
“Nah, seperti itu kan lebih enak. Kamu panggil saya Niko, saya panggil kamu Tia. Kan kelihatan lebih akrab”
Sejak pertemuan malam itu dengan Niko, pelanggan “ESC”. Hidup Tia menjadi sedikit berubah. Tia lebih semangat menjalani hidup. Tia ngerasa Niko adalah pelanggan spcesial baginya. Karena baru kali ini, mendapati seorang pelanggan yang supel. Tia merasa seperti tidak ada sekat saat menjadi pemnadunya, yang ada hanya sapaan akrab bagaikan teman saja. Itulah yang membuat Tia nyaman menjadi pemandunya.
***
Pagi, menjelang. Suara kicauan burung terdengar begitu merdu. Berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain. Embun pagi yang membasahi kaca jendela mulai menetes, seiring kemunculan sang mentari. Hangat lembut sentuhan sang mentari seperti halnya sentuhan sang Ibu yang telah lama meninggalkan kehidupan Tia, datang melewati sela-sela kain penutup tubuh Tia. Nampak wajah yang sedang kelelalahan. Ya benar saja, Tia hampir setiap hari pulang larut malam. Tia sampai di rumah, saat sang paman Roni, sudah terbaring di tempat tidurnya. Mengendap-mendap seperti para pencuri, Tia memasuki rumah. Ia tak mau membangunkan pamannya. Karena ia tahu pamannya telah lelah bekerja seharian. Ia tak mau mengganggu tidur pamannya, hanya karena kedatangannya pamannya menyempatkan diri bangun dari tidurnya.
Terdengar suara dari balik pintu tengah kamar Tia. Semakin lama, suara tersebut semakin mendekat. Ternyata sang paman Roni, yang menyempatkan waktu paginya untuk melihat keponakannya. Roni memperbaiki selimut Tia, yang sudah tidak pada posisinya lagi. Sesekali Roni memandangi wajah Tia yang begitu ia sayangi. Wajah yang mengingatkannya dengan Mona, adik kandungnya yang juga ibu kandung Tia. Roni tampak begitu ingat, saat ia masih tinggal bersama dengan Mona. Di salah satu sudut kota yang jauh dari keramaian. Mereka kecil (Roni dan Mona) saling berebut mainan, hanya sang ibulah yang mampu memisahkan mereka.
“Tia, Wajahmu begitu mirip dengan ibumu Mona. Sifatmu pun tak ketinggalan seperti ibumu. Aku masih ingat dua puluh lima tahun yang lalu. Saat aku masih tinggal seatap dengan ibumu. Bagaimana ia dulu kecil, tak mau menyerah utntuk mendapatkan keinginannya. Dan kini sifat-sifat ibumu ada di dalam dirimu” Pekik Roni dalam hati.
Kini itu hanya sebuah kenangan di antara mereka berdua. Mona yang dulu sangat Roni sayangi sebagai adik. Kini sosoknya menjelma dalam tubuh Tia. Roni tak kuasa menahan isak tangis, saat melihat wajah Tia. Wajah yang menurut Roni belum pantas untuk merasakan derita yang begitu berat. Menjalani kehidupan yang begitu keras. Namun, satu yang menjadi keyakinan Roni bahwa ini adalah jalan yang Tuhan berikan untuk Tia keponakannya, anak kandung Mona. Roni pun yakin, Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar sebagai balasan untuk Tia.
Sebelum tangisnya pecah, Roni tinggalkan Tia yang masih tertidur. Roni tak mau mengganggu tidurnya gara-gara tangisnya. Cukup ia yang merasakannya, cukup ia yang memikirkannya. Kini tinggallah Tia seorang diri di dalam kamar. Sang paman sudah bergegas pergi ke terminal untuk menyibak padatnya jalanan protokol Semarang. Mencoba mengais rejekinya hari ini. Tak ada lagi keluh yang mampu halangi langkahnya, ketika ia sudah memacu degup jantungnya.
Matahari pagi, mulai menerobos celah dinding kamar Tia. Membelai mesra, bagaikan belaian Ilahi. Belaian inilah yang selalu bangunkan Tia setiap pagi datang. Begitu Tia bangun dari tidurnya, sudah Nampak suasana rumah yang begitu sepi. Selalu saja seperti itu. Saat ia terbangun, rumah sudah sepi. Begitu pun saat ia pulang dari tempat kerja rumah sudah sepi, karena sang paman sudah tertidur pulas di kamarnya.
Sudah hampir satu tahun ini, Tia tinggal bersama sang paman. Namun, belum sekali pun Tia pernanh berbincang dengan sang paman di rumah. Mungkin saja, karena mereka berdua tidak pernah bisa bertatap muka. Mengingat pekerjaan masing-masing yang memaksa mereka berdua seperti ini. Dalam kesendiriannya di pagi itu Tia merasa ada sesuatu yang mengajaknya untuk merenungkan perjalanan hidupnya selama satu tahun, saat pertama Tia tinggal bersama dengan pamnnya sampai sekarang.
“Tia, sudah berapa lama kau tinggal dengan pamanmu?”
“Adakah kau berikan hiburan buat pamanmu?”
“Kau anggap apa pamanmu, tia? Apakah hanya sekedar tempat untuk menumpang? Melepas lelah setelah kau selesai bekerja?”
“Tak pernahkah kau berfikir tentang kondisi pamanmu saat ini?”
“Sudah pernahkan kamu berikan senyum indahmu untuk pamanmu di pagi butanya?”
“Ataukah kau hanya bisa memikirkan dirimu sendiri?”
Serangan pertanyaan dari hatinya lah yang temani paginya. Sejak pertanyaan itu menyerang dirinya, Tia merasakan hal tersulit yang ia rasakan selama hampir setahun ini. Hal ini semakin membuatnya bertambah pusing. Setelah sebelumnya Tia diserang perasaan kagum oleh seorang tamu karaokenya. Entahlah, apa yang sekarang ada di dalam benak pikiran si Tia.
Segera setelah bangun dari tidurnya, Tia bergegas membereskan rumahnya yang terlihat berantakan. Nampak juga beberapa punting rokok yang tercecer di sudut-sudut ruangan. Sudah hampir satu minggu ruangan-runagan  dalam rumahnya tidak tersentuk alat-alat pembersih. Sesekali Tia menyibakkan rambutnya yang menutup wajahnya. Saat jam sudah menunjukkan pukul 12.00 pekerjaan membersihkan rumah sudah hampir selesai. Namun, hampir saja Tia lupa, ternyata kamar pamannya belum ia bersihkan. Tanpa pikir panjang, kamar berukuran 4 meter persegi, ia bersihkan. Dengan waktu sekejap kamar pamnnya sudah bersih, tidak lupa ia menyemprotkan pengharum ruangan ke sudut-sudut kamar pamannya.
Belum sempat Tia beristirahat, sore sudah berada di pelupuk mata. Semilir angin menambah romansa indah kala itu. Daun-daun di ranting yang terlihat rapuh berguguran bagaikan tarian alam yang begitu Nampak jelas di hadapan. Sesekali terdengar suara kendaraan yang hilir mudik melewati rumah Tia.
Nampak, Tia sedang bersiap-siap untuk menuju ke tempat kerjanya. Dipakainya eye shadow untuk mempercantik matanya. Dengan cekatan, bedak yang ada di tangannya tiba-tiba sudah merubah wajah Tia menjadi sedikit bersinar. Ditambah lagi dengan lipstik merah mewarnai kedua bibir Tia yang sebanarnya tanpa lipstik pun bibir Tia sudah merah. Namun, karena tuntutan profesi semua alat kosmetik itupun satu persatu menghiasi wajah Tia.
Ketika hampir sampai di depan pintu. Tia merasa, ada hal yang masih mengganjal pikirannya. Benar saja, pertanyaan hati yang tadi membayangi benak Tia kini muncul lagi. Spontan Tia mengurungkan niatnya untuk pergi ke tempat kerja. Tidak biasanya, ada hal yang bisa membuat Tia tidak berangkat bekerja. Tak lama kemudian, muncullah niatan Tia, untuk memberikan persembahan buat Roni pamannya. Paman yang telah berikan kasih sayang, pasca kedua orangtuanya pergi.
Ia pun melepas tas sampingnya yang masih menggantung di pundak. Langkahnya kakinya membawanya ke dapur. Dibukanya tudung saji di atas meja, yang ternayata kosong. Kemudian, diambillah beberapa butir telur yang masih tersisa di dalam lemari yang ada di sudut dapur. Kompor dinyalakan, dan telurpun dalam waktu singkat sudah matang. Berturut-turut setelah itu, nasi, sayur dan sambal sudah selesai dibuatnya. Kini, meja yang tadinya kosong berubah menjadi penuh dengan makanan.
Denting jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Biasanya pamnnya jam segini, sudah berada di rumah. Tapi, tak tahu kenapa sampai saat ini pamannya belum juga Nampak di rumah. Dalam penantiannya menunggu kehadiran sang paman, handphonenya bergetar. Sebuah SMS mengisi kotak masuk di telponnya.

Dari : +6286………..
Sore Tia, mala mini aku mau maen ke tempat karaoke kamu. Temenin aku yah untuk malam ini. By. Niko

Ternyata SMS  itu dari si Niko. Tamu karaoke yang baru sekali bertemu dengannya. Tia hampir saja bingung, darimana si Niko dapat nomer handphonenya.

Dari : +6286……….
Maaf Tia, aku minta nomer kamu dari si Novi, kasir karaoeke kamu. Maaf juga sebelumnya tidak minta ijin kamu dulu. Thx. By. Niko

“Sialan si Novi, pakai tidak kasih tahu segala. Ngasih nomerku ke orang lain” batin Tia.
Belum sempat Tia membalas SMS dari si Niko. Roni pamnnya sudah tiba di rumahnya.
“Lho, kamu tidak berangkat kerja Tia?” Tanya pamannya santai.
“Tidak paman, lagi tidak mood saja paman” jawabnya singkat.
“Oh, kirain ada apa, ya sudah paman mau istirahat dulu. Oh ya tia, kalau kamu belum makan, pergi ke warung depan rumah saja. Nanti paman yang bayar” melihat si Tia.
“Tia, sudah makan kok paman” menghela nafas panjang
“Oh ya sudah kalau gitu” lanjutnya.
Roni, menuju ke dapur untuk mengambil minum. Kaget bukan main Roni, melihat meja makannya sudah penuh dengan sajian masakan. Rasa heran dan penasaran mengelayuti pikiran Roni.
“Yak, ini makanan siapa yang masak? Kok, banyak sekali” teriak Roni.
“Saya paman, maaf paman nanti kalau rasanya kurang enak. Sudah lama Tia tidak memasak paman” Sahut Tia.
Mendengar jawaban Tia. Roni semakin bingung, ada apa dengan si Tia. Namun, hati Roni merasa senang. Baru kali ini, Tia membuat masakan untuknya. Roni seperti baru saja mendapatkan anugrah yang tiada terkira dari Ilahi. Dengan lahap, Roni menghabiskan sajian masakan yang dibuat oleh keponakan satu-satunya, Tia. Sudah lama Roni tidak pernah makan di rumahnya sendiri. Setiap harinya ia selalu pergi ke warung depan rumah untuk mengisi perutnya. Hingga di sore ini, Tia membuat masakan untuknya.
Nampaknya, masakan yang di buat Tia mengingatkannya dengan masakan Ibunya si Tia, yang sekaligus juga adik kandungnya. Sudah hampir 2 tahun yang lalu. Terakhir Roni merasakan sensasi masakan Ibunya Tia.
“Tia, masakan kamu mirip sekali dengan masakan buatan ibumu” teriak Roni kepada Tia.
Mendengar suara pamannya, Tia merasakan perasaan senang yang tiada terkira. Apalagi, ketika mendengar pamannya memuji masakannya mirip dengan masakan ibunya. Walaupun bagaimana keadaan sang ibu, Tia merasa berhutang budi dengan ibunya yang telah memberikan segalanya buat dirinya. Setidaknya berkat sesuatu dari ibunya, Tia bisa memberikan kebahagiaan buat pamannya.
“Iya paman terimakasih, kapan-kapan Tia masakin lagi buat paman”
Semarang-Kendal, 26 Januari- 5 Februari 2013
###

Welcome

Selamat Datang,
Selamat berkunjung di webblog milik Saifudin Elf, sebuah catatan sederhana dari sebuah proses dinamika berfikir, merangkai, dan menyusun kata.
"tak ada sejarah yang terukir tanpa tulisan, tak ada dokumentasi seindah lukisan Tuhan"
dengan motto tersebut, ku coba untuk menuangkan segala hasil pemikiran, jejak kaki, dan perjalanan hidup melalui webblog sederhana ini.
Kritik dan saran sangat saya harapkan,
Kritik dan saran Hubungi :
Saifudin ELF SMS/Call : 085740951321
Email : iffudz.saifudin@gmail.com
Twitter : @saifudinelf
Best Regard,
-saifudin elf-

Categories

Powered by Blogger.

Followers

Visitor


Blog Archive

Contact us

Name

Email *

Message *

Business

Instagram